Sambutan mahasiswa baru lazimnya diisi dengan pemaparan kurikulum yang padat dan materi teoretis yang kaku. Namun, nuansa yang berbeda tersaji di lingkungan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HIMA PAI), perhelatan Hari Solidaritas Mahasiswa (HSM)yang dilaksanakan di Gedung Aula Terpadu, Minggu 13 September 2026 dikemas sebagai ruang perjumpaan yang hangat, dialogis, dan penuh refleksi bagi mahasiswa baru Program Studi PAI.
Mengusung tema “Membangun Generasi Pendidik Islam yang Adaptif, Inspiratif, dan Berintegritas di Era Digital”, kegiatan ini dirancang sebagai momentum awal untuk menanamkan kesadaran profesional sekaligus membangun kebersamaan mahasiswa sejak mereka resmi menjadi bagian dari keluarga besar Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Ketua Program Studi PAI, Muhammad Rofiq Anwar, S.Pd.I. M.Pd., yang hadir membuka sekaligus mengisi kegiatan tersebut, memilih pendekatan interaktif alih-alih ceramah satu arah yang monoton. Di hadapan para peserta, Rofiq memantik diskusi melalui pertanyaan sederhana mengenai figur guru masa lalu yang paling membekas dalam ingatan mereka.Dari obrolan tersebut, beliau mengarahkan kesadaran mahasiswa pada satu titik krusial: bahwa perjalanan seorang pendidik tidak bermula saat ijazah atau surat keputusan mengajar diterima, melainkan dimulai dari bagaimana mereka membentuk diri di bangku kuliah hari ini.
“Cara mahasiswa berbicara, berpakaian, berperilaku, memperlakukan teman seangkatan, hingga tanggung jawab terhadap tugas akademik adalah cerminan integritas yang kelak mereka bawa ke ruang kelas,” ungkap Rofiq di hadapan para peserta.
Dalam sesi inti, pemaparan dijabarkan ke dalam tiga pilar utama karakter pendidik. Pertama, adaptif, yakni kesiapan menghadapi dinamika peserta didik masa depan yang hidup di tengah kecerdasan buatan dan arus informasi cepat, tanpa kehilangan akar nilai dan akhlak Islam.
Kedua, inspiratif, di mana seorang guru dituntut bukan sekadar cerdas mentransfer ilmu, melainkan mampu menyalakan harapan dan kepercayaan diri anak didik. Ketiga, integritas, yang ditekankan melalui kejujuran dalam hal-hal kecil di lingkungan kampus, seperti menghindari plagiasi, tidak menitip absen, serta bertanggung jawab penuh atas tugas yang diemban.Selain mendapatkan penguatan mengenai karakter seorang calon pendidik, mahasiswa baru juga diajak untuk membangun interaksi dan kebersamaan melalui rangkaian kegiatan yang telah disiapkan oleh HIMA PAI.
Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa yang sebelumnya belum saling mengenal untuk mulai berkomunikasi, membangun kedekatan, dan mengenal satu sama lain sebagai bagian dari satu keluarga besar PAI.

