PAI Yudisiumkan 50 Mahasiswa, Susmiati Jadi Lulusan Terbaik Fakultas Tarbiyah dengan IPK 3,97
Bangka Belitung — Langkah baru menuju dunia pengabdian resmi dimulai. Sebanyak 50 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung mengikuti Yudisium XXIV Fakultas Tarbiyah. Momentum tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik mereka sekaligus awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.
Yudisium XXIV Fakultas Tarbiyah mengusung tema “Mengintegrasikan Iman dan Ilmu, Menyalakan Cahaya Pendidikan, Membangun Peradaban Berakhlak.” Tema ini merefleksikan harapan agar para lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu membawa ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi menjadi cahaya yang memberi manfaat bagi kehidupan.
Kebanggaan tersendiri hadir bagi Program Studi PAI. Dari jajaran lulusan Fakultas Tarbiyah, Susmiati, lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam, berhasil meraih IPK 3,97 dengan predikat Sangat Memuaskan dan tercatat sebagai lulusan terbaik Fakultas Tarbiyah.
Capaian tersebut menjadi buah dari proses panjang yang tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga ketekunan, kedisiplinan, dan konsistensi dalam menyelesaikan setiap tahapan pendidikan. Prestasi Susmiati sekaligus menjadi kebanggaan bagi Program Studi PAI dan inspirasi bagi mahasiswa yang masih melanjutkan perjalanan akademiknya.
Namun, di balik toga dan pencapaian akademik, Yudisium XXIV menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Dekan Fakultas Tarbiyah, Dr. Subri, M.S.I., mengingatkan para lulusan bahwa yudisium dan wisuda bukanlah garis akhir.
“Yudisium dan wisuda bukanlah akhir dari segalanya,” tegasnya di hadapan para lulusan.
Menurutnya, setelah meninggalkan ruang-ruang perkuliahan, para lulusan akan memasuki ruang kehidupan yang sesungguhnya. Di tengah masyarakat, mereka tidak hanya akan diuji dengan seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi juga dengan bagaimana ilmu tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku.
Karena itu, Dekan berpesan agar para lulusan tidak hanya mengejar keberhasilan, tetapi juga menjaga kualitas diri sebagai manusia. “Jadilah orang baik, menjadi keteladanan, jadilah orang yang dipercaya, jadilah orang yang taat,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi lulusan PAI yang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari dunia pendidikan. Menjadi pendidik bukan semata-mata tentang menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga tentang menghadirkan keteladanan. Apa yang dilakukan seorang guru sering kali menjadi pelajaran yang lebih kuat daripada apa yang disampaikan melalui kata-kata.
Dengan berakhirnya masa studi, 50 lulusan PAI kini bersiap membawa bekal ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai keislaman ke ruang pengabdian yang lebih luas. Mereka diharapkan mampu hadir sebagai generasi pendidik yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, akhlak, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Bagi Program Studi Pendidikan Agama Islam, Yudisium XXIV bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia menjadi pengingat bahwa setiap lulusan membawa nama almamater sekaligus amanah keilmuan. Ilmu yang telah diperoleh harus terus menyala, iman harus menjadi landasan, dan akhlak harus menjadi wajah dalam setiap pengabdian.
Dari ruang akademik, mereka melangkah menuju ruang pengabdian. Dari proses belajar, mereka memasuki fase untuk memberi. Dan dari hari yudisium ini, perjalanan baru pun dimulai—menjadi insan yang unggul, integratif, dan transformatif, serta mampu menyalakan cahaya pendidikan untuk membangun peradaban yang berakhlak.